Skip to main content

Tarawih Pertama Ramadhan Tahun 2019 di Masjid Kyai Musaji

Oleh: Mas TrigusPada: Mei 06, 2019

Kalau tak kejebak keinginan membenahi kenalpot vario yang jebol karena keropos, tentu saya tidak sholat tarawih pertama di Masjid Pak Imam Musaji.  Masjid ini dimiliki dan diimami oleh orang NU tulen, bersebelahan dengan bengkel milik seorang teman (saat artikel ini ditulis, usia pertemanan kami masih sebatas 3 kali jumpa) namanya Epri.

Kenapa saya harus menyebut NU? Itu bukan lain untuk memotret keadaan masyarakat di sekitar, bahwa, notabene orang Muhammadiyah, tarawihnya ya di masjid muhammadiyah. Ini tak hanya berurusan soal perbedaan organisasi melainkan juga perbedaan keyakinan. Misalnya begini, orang NU jumlah sholat tarawih plus sholat witir adalah 23 rakaat, sedangkan orang Muhammadiyah jumlah rakaatnya 11. Sholat witir 3 rakaat dan sholat tarawih 8 rakaat.

Karena saya Muhammadiyah semenjak sekolah MTs, maka teman saya Epri yang mengetahui ihwal keorganisasian saya, menilai bahwa, sholat tarawih malam pertama yang saya lakukan, adalah hal baru. Padahal, sejauh ini, meskipun saya orang Muhammadiyah namun kerap beribadah langsung dengan orang NU.

Fanatisme golongan (antara NU dan Muhammadiyah) di akar rumput, memang sering dipertontonkan. Misalnya tadi, soal pandangan teman saya yang secara kultur diimami oleh kyai NU, menganggap tabu bahwa saya "tak biasanya" berjamaah sholat tarawih dan witir di masjidnya orang NU.

Contoh-contoh lain yang serupa, biasa saya jumpai pada golongan Muhammadiyah generasi tua (sebagian), mereka menganggap bahwa cara-cara ngibadahnya orang NU, tidak "seideal" cara-cara ibadah mereka. Pandangan ini juga tak luput dari pandangan orang NU generasi tua (sebagian) yang memandang orang Muhammadiyah tak seloyal cara ibadah mereka.

Perbedangan pandangan yang berujung pada perbedaan keyakinan ini menurut saya baik, untuk kategori nilai tingkat militansi masing-masing organisasi. Namun jika dibaurkan dalam hubungan masyarakat, akan menjadi tidak elok. Akan sampai kapan kondisi ini terus dibiarkan. Faktanya, "rasan-rasan" ini juga diteruskan kepada kader/santri sehingga kadang, meskipun mereka muda, juga memiliki pandangan yang sama.

Untuk bisa memandang ini secara obyektif, maka saya putuskan untuk melakukan tarawih keliling. Dan supaya saya tidak dikatakan hendak berdiri di atas golongan (karena ini berat), maka remah-remah hal ihwal perbedaan ngibadah ini (baik dikalangan NU sendiri dan Muhammadiyah) saya catat melalui blog yang sangat-sangat pribadi.

MENJAMAK NIAT PUASA RAMADHAN
Soal jumlah rakaat, saya sudah biasa melakukan itu, namun ada pengalaman baru yang saya dapatkan dari Masjid Kyai Musaji di Watulimo ini.

Sambil menunggu rilis 1 Ramadhan versi kemenag (melalui siaran televisi), Kyai Musaji naik di atas mimbar (setelah sholat isyak dan sebelum sholat tarawih). Beliau banyak menjelaskan (tepatnya mengingatkan kembali) kepada jamaah ihwal niat dalam puasa.

Ia kembali menekankan perihal niat puasa berdasar dari Imam Syafii (sebagai panutan beribadah) bahwa puasa ramadhan harus diniatkan pada malam sebelum jatuh waktu shubuh, oleh setiap orang. Lantas beliau juga menyebutkan dalam ceramahnya terkait diperbolehkannya untuk menjamak niat puasa ramadhan sekali untuk sebulan.

Kyai tersebut tidak menjelaskan dari mana sumber kutipan tersebut dirujuk. Hanya menerangkan "dalam salah satu kitab, ada ulama yang berpendapat boleh menjamak niat puasa Ramadhan sebagai antisipasi ketika lupa berniat". Karena menurutnya, ketika orang lupa berniat atau tidak berniat puasa pada malam hari, puasa yang dilakukannya adalah sia-sia.

Lantas ketika sholat tarawih selesai, ia mengajak jamaah untuk melafadskan niat tersebut secara berjama'ah (namun dalam niat sendiri-sendiri). 

Bagi saya, ini adalah pengalaman baru. Yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Bahkan, menyoal siapa yang berpendapat demikian, saya menjadi penasaran untuk mencarinya.

Ada pengalaman baru yang saya dapatkan ketika tidak hanya berada di satu tempat. Dan seusai sholat tarawih, saya menjadi ingin melakukan safari tarawih di tempat lain.

Besok tarawih ke mana ya?

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar