Skip to main content

Apa Salahnya Mengkritik?

Oleh: Mas TrigusPada: Januari 28, 2019

Beberapa kawan dekat yang sudah menjadi pejabat, atau yang saat ini dekat dengan pejabat, mereka mulai risih dan mempersoalkan kritik. Sejauh yang aku tahu, mereka-mereka dahulu semenjak mengenal pergerakan dan mendapatkan pengalaman darinya, adalah manusia yang tak pernah lepas dari kegiatan mengkritik.

Ya memang benar, aku tidak hanya mengenal satu dua orang yang berlaku demikian. Ada banyak kawan yang kini dikenal piiawai dan mendapatkan posisi, berangkat dari kegarangan mereka dalam menyuarakan keadilan.

Meskipun tidak semuanya, di sisi lain, aku juga mengenal kawan-kawan yang tetap berada dijalan "ninjanya" dengan menjauhi segala hal yang dapat membisukan hati nurani. Atau mereka tetap berteriak lantang meski dekat dengan pejabat.

Faktanya memang begitu, orang kadang berteriak lantang menyuarakan keadilan hanya untuk dipandang kuat dan cerdas. Teriakannya tidak sampai pada jiwanya, suara itu hanya mengambang di antara telinga-telinga kaum pejabat. Lantas karena pejabat pandai mengenali keinginannya mereka, lalu didekati dan diajak ke dalam lingkungannya.

Berbagai tawaran dalam rangka untuk membungkam manusia-manusia nihil kemapanan ini sudah ada semenjak manusia mengenali peradaban. Maka tak heran jika berbagai cara dan upaya, memang sudah termaktub dalam kamus genetika kaum pejabat. Jika ada orang berteriak lantang mengganggu kepentingan kita, dekati mereka, ajak bicara, kuasai psikologinya, beri dia sebagian kecil bagian jabatan, maka mereka akan diam seketika.

Orang-orang yang dahulunya garang inilah yang paling berbahaya dibandingkan dengan pejabat biologis (keluar kuliah daftar PNS lalu jadi). Biasanya merekalah yang pada akhirnya mengkritisi kritik, bersikap pobia terhadap kritik dan memusuhi sang pengkritik.


Sebenarnya apa salah kritik?

Kritik dianggap suara buruk bagi yang terkritik, mereka menganggap kritik dapat membahayakan posisi jabatannya, atau merusak citra baiknya, atau menegasikan ucapan-ucapan yang mereka produksi untuk mendapatkan citra baik.

Padahal kritik adalah pujian dalam bentuk lain, ia didengungkan untuk menyentuh kejiwaan, melukai keegosian, dan mengubah cara pandang yang dianggap paling benar. Kritik adalah ujaran kebaikan seperti layaknya jamu atau obat. ia pahit namun menyembuhkan.

Adalagi yang lucu, beberapa orang yang dalam hidupnya hanya memikirkan kemapanan dengan mudah, rela menjilat-jilat pantat pejabat penting supaya mau memberi posisi baginya. Lantas dengan segala kerombengannya, mereka malah menjadi harder bagi yang lainnya. Mereka menyinyiri pengkritik dengan cemohan, atau menyebutnya dengan hasutan "kamu iri, karena tidak masuk bagian seperti bagian yang kami dapatkan".

Begitulah sampai seterusnya. Namun meski demikian peliknya, hanya bagi mereka yang istiqomah dan tabah, jujur dan berdaulat atas dirinya, yang mampu menggapai kedamaian. Maka hiduplah dengan daulat dirimu.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar